Wednesday , 16 April 2014
Home >> TREN UKM >> Info Produk >> Eksis Sejak 1970-an, Allia Furniture Hadirkan Ragam Produk Inovasi Terbaru
Eksis Sejak 1970-an, Allia Furniture Hadirkan Ragam Produk Inovasi Terbaru

Eksis Sejak 1970-an, Allia Furniture Hadirkan Ragam Produk Inovasi Terbaru

Allia Furniture menerima pesanan berbagai produk pelengkap rumah, mulai dari lemari, bufet, tolet, meja & kursi, tempat tidur, cabinet dan lainnya.

Pelaku industri furnitur tetap optimis meski tekadang sejumlah persoalan klasik, seperti harga dan pasokan bahan baku (kayu) masih saja menjadi penghadang. Salah satunya adalah Allia Furniture, industri rumahan yang hingga kini terus eksis memproduksi berbagai produk perlengkapan rumah, seperti kursi, meja, tempat tidur, bufet, lemari, tolet.

Didirikan sejak tahun 1970-an, usaha yang berlokasi di Pusat Pengembangan Industri Kayu dan Meubel (PPIKM) Klender, Jakarta Timur ini mampu menghadirkan berbagai model dan tipe furnitur, mulai dari model tradisional hingga modern/minimalis dan dapat pula dipadukan dengan berbagai motif ukiran, serta aksesoris dan ornamen lainnya.

Ide Kulsum Wardati, salah satu pengelola Allia Furniture menuturkan, meski persaingan di industri ini cukup tinggi, namun pihaknya tetap otimis bahwa usahanya tersebut akan terus berkembang maju. Pasalnya, menurut dia, pihaknya selalu melakukan berbagai inovasi dengan menghadirkan berbagai model dan tipe serta tambahan-tambahan aksesoris dan ornamen yang baru.

“Di sini aja usaha furniture begitu banyak. Makanya kita terus berusaha untuk menghadirkan berbagai kreasi model furnitur yang baru. Kami juga menerima pesanan untuk berbagai model, tipe, serta bahan pembuatannya, baik dari kayu jati, mahoni, dan jenis kayu lainnya, atau dari kayu-kayu pabrikan,” ujar Ideh, sapaan akrab Ide Kulsum Wardati.

Benar, ketika pewarta IndoTrading menyambangi workshop Allia Furniture, para pekerja/tukang tengah sibuk mengerjakan berbagai produk pelengkap rumah tersebut. Sebut saja lemari/bufet/tolet dan meja & kursi, adalah jenis produk yang mendapat ‘jatah’ pasar terbesar. Produk-produk dalam berbagai model dan tipe tersebut dikerjakan menggunakan bahan-bahan berkulitas untuk menghasilkan produk yang berkualitas pula.

“Kami menggunakan kayu jati dan beberapa jenis kayu lainnya. Tapi bisa juga disesuaikan juga dengan permintaan pembeli, bisa berbahan kayu solid maupun plywood, mau pesan yang model ukiran atau minimalis. Kami bisa kerjakan,” ungkapnya.

Adapun produk-produk usaha kecil menengah (UKM) yang didirikan oleh HM. Zen Zaini ini meliputi berbagai varian lemari, mulai dari lemari anak, lemari dua pintu, dan lemari tiga pintu, serta model lainnya. Ada pula lemari model aero (lemari pakaian minimalis full unit cabinet 4 pintu & kaca cermin); model harvars (lemari pakaian minimalis 4 pintu + meja & 4 pintu rak atas); model brown (lemari pakaian minimalis modern 2 pintu sliding door); dan model winnie (lemari pakaian minimalis 2 pintu sliding door & laci), serta berbagai model lainnya.

Varian tempat tidur, antara lain model core (modern minimalis ukuran 160 cm x 200 cm); model bagong carvin (dari kayu jati konsep tradisional); bagong kerang (dari kayu jati + ukir kerang); astina cempaka (kayu jati); dan model spanyol (kayu jati melengkung), dan berbagai varian lainnya.

Sementara berbagai varian meja antara lain model utama (meja tulis kantor kayu jati); model standar (meja belajar kayu jati); kantor 1/2 biro (meja tulis kayu jati); leter L rak full (meja tulis kayu jati); dan standard bubut + bangku duduk (meja belajar anak dari kayu jati); dan lainnya.

Ide Kulsum Wardati

“Jadi kami bisa mengerjakan berbagai permintaan pelanggan. Kami juga bisa langsung ke lokasi untuk sama-sama mendiskusikan model dan tipe produk yang diinginkan, terutama seperti kamar set yang terdiri dari lemari, tempat tidur, dan meja rias/tolet,” terang ibu 44 tahun ini.

Lengkapnya, produk kamar set terdiri dari kamar set 2 produk/ganda (lemari pakaian kayu jati model bevel bodong kaca, dan tempat tidur dipan kayu jati model mawar); kamar set furnitur klender anggrek (lemari pakaian kayu jati model 2 pintu anggrek, tempat tidur kayu jati model astina cempaka, dan meja rias/tolet kayu jati model indosiar 1 biro); kamar set mawar kayu jati (lemari pakaian lampu majapahit pinggang, tempat tidur/dipan kayu jati model bagong matahari, dan meja rias kayu jati model lampu); serta model lainnya.

Ideh meyakini, jika semua produk yang dihasilkan tersebut memiliki kualitas yang sangat baik dan dijamin memuaskan para pelanggannya. “Semua pekerja sangat ahli pada bidangnya masing-masing. Dengan penuh kesabaran dan ketelitian, mereka mampu menghasilkan berbagai produk berkualitas,” tegasnya.

Proses Pengerjaan

Untuk proses pengerjaannya, Ideh bilang harus melalui beberapa tahap, sebelum produk tersebut diserahkan kepada pembeli/pemesan. Tahap pertama adalah pengeringan kayu yang telah dipotong/dibelah. Oleh karena kayu yang yang baru dipotong biasanya masih basah, maka pengeringan dilakukan agar kayu yang akan digunakan nantinya lebih kokoh, tidak melengkung, dan mudah untuk dibentuk. Setelah kayu tersebut kering, selanjutnya adalah mulai proses pembuatan produk. Selanjutnya adalah pemberian anti rayap dan pengamplasan.

“Tapi, setelah produknya sudah jadi, harus dijemur atau dibiarkan lagi mas. Baru selanjutnya masuk ke proses akhir atau finishing, seperti pengecatan dan lainnya. Jadi, jika ada yang mesan, butuh waktu sekitar satu bulan. Itu pengerjaan sejak awal hingga finishing,” terangnya fasih.

Ideh bilang, proses pengerjaan furnitur ini membutuhkan kesabaran, baik oleh pihak pemesan dan terutama pekerjannya. “Harus benar-benar sabar, sehingga bisa kerjakan dengan teliti dan menghasilkan produk yang berkualitas,” ujar ibu tiga anak ini.

Jakarta, Pasar Utama

Selain melayani pemesanan secara langsung, produk-produk Allia Furniture ini juga didistribusikan ke sejumlah toko mebel yang ada di seputaran Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, dan lainnya. Proses pemasaran semacam ini sudah dilakukan sejak lama.

“Jadi kami tidak hanya melayani atau menerima pesananan saja. Selain kami produksi untuk nyetok di sini, kami juga jual ke beberapa toko mebel untuk dijual kembali oleh mereka,” jelas Ideh.

Lebih jauh Ideh menerangkan, antara produk yang dipasarkan ke toko dan produk pesanan dari pelanggan memiliki perbedaan yang cukup menonjol, terutama soal harga.

“Untuk pesanan harganya beda lagi. Soalnya untuk finishing akhirnya juga pasti beda. Belum lagi permintaan jenis bahan kayunya, atau tambahan berbagai aksesoris dan ukiran serta lainnya. Namanya juga pesanan,” kata dia.

“Terus untuk pesanan, misalanya untuk lemari pakaian, pajangan, bufet, atau tempat tidur, masing-masing daerah juga punya ciri khas tersediri. Kalau di Jakarta, misalnya, lebih banyak yang suka tampilan minimalis, tapi makin ke kampung makin ‘norak’. Karena biasanya ada tambahan ornamen-ornamen tertentu dan pewarnaannya juga beda,” tambah Ideh.

Beberapa produk usaha yang berlokasi di Jalan Kampung Kapuk 1 RT 06/06 No. 1 Klender, Jakarta Timur (jalan utama: Jl I Gusti Ngurah) ini antara lain dipasarkan dengan harga yang berkisar antara Rp 500 ribu (meja anak) hingga jutaan rupiah.

“Jadi harga sangat bergantung pada jenis kayu, ukuran dan bentuk atau modelnya. Jadi semakin besar ukuran produk dengan bahan yang juga lebih bagus, apalagi jika ditambah dengan berbagai ornamen atau aksesoris lainnya, maka harganya pun tentu semakin tinggi,” ungkap dia.

Untuk produk jenis cabinet, sambung Ideh, juga punya harga yang berbeda. Harganya sangat dipengaruhi oleh ukuran, dan material finishing yang digunakan, seperti HPL (High Pressure Laminate), melamine, dan cat duc0.

“Jadi kami mainnya per meteran (meter lari: dibulatkan ke atas). Dan cabinet dengan fisnishing akhir menggunakan HPL adalah yang paling mahal, saat ini per meternya Rp 1,9 juta. Sementara untuk melamine Rp 1,6 juta, dan duco Rp 1,8 juta,” terang Ideh.

Dari Jatinegara Kaum hingga Allia Futniture

Bukan cerita baru jika Klender disebut sebagai salah satu pusat kerajinan furnitur atau mebel di Jakarta. Klender tumbuh sebagai pusat pengerajin mebel sejak zaman penjajahan Belanda. Cerita ini bermula di Jatinegara Kaum, sebuah daerah yang tak begitu jauh dari Klender. Saat itu, daerah ini menjadi salah satu pusat penjualan mebel ‘berkelas’ lantaran harganya yang sangat mahal.

“Dulu, harga mebel yang dijual di Jatinegara Kaum terlampau mahal, sehingga warga sekitar tidak sanggup beli. Rata-rata tebal kayunya 2 cm dengan lebar 60 cm, bahkan ada yang lebih dari itu. Sekarang mungkin masih bisa kita temukan contohnya di toko-toko antik,” ungkap HM. Zen Zaini, pendiri usaha mebel yang belakangan dinamakan Allia Furniture ini.

“Lama-lama warga sekitar mulai berpikir, kaga boleh orang kaya aja yang bisa pake. Maka carilah cara untuk bisa membuat yang lebih ringan. Dari situ, muncullah bengkel lemari pertama di Duren Sawit yang produknya dijual ke Senen,” sambungnya.

Sementara di Klender, lahannya masih berupa perkebunan dengan beberapa rumah penduduk. Pada 1950 bermula di Kampung Kapuk (sekarang: dekat st Klender), berdirilah toko mebel “Haji Ahmad”. Sepuluh tahun kemudian atau sekitar 1960, terbentuklah pangkalan lemari di wilayah tersebut, tepatnya di Jl I Gusti Gurah Rai, Jl Pahlawan Reolusi, dan Jl Raya Bekasi Timur (sekarang).

“Jadi di kiri-kanan jalan itu ada toko-toko lemari. Namun pada tahun 1970-an, area tersebut digusur untuk pelebaran jalan. Maka beberapa toko pun pindah dan ada yang bergeser agak ke dalam,” terang pria kelahiran 1940 silam ini.

Dulu di sekitar sini, sambung dia, juga menjadi tempat penampungan kayu jati untuk pembangunan rumah atau pemukiman. Kayu jati tersebut didatangkan dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan.

“Nah, sejak saat itu kami juga mulai memanfaatkan kayu jati itu untuk membuat berbagai mebel, jadi tidak hanya dijual untuk pembangunan rumah-rumah saja,” kata H. Zen.

H Zaini sendiri mengawali usahanya pada sekitar 1976. Produksi pertamanya saat itu adalah meja setrika yang dipasarkan ke toko-toko maupun perorangan di sekitar Jakarta Timur. Sejak saat itu, usaha ini terus berkembang dengan memproduksi produk lainnya, seperti lemari, tempat tidur, kursi, meja dan lainnya. Baru, pada 2000-an, usahanya tersebut diberi nama “Allia” Furniture (Allia adalah nama istri H Zen) oleh anak-anaknya yang melanjutkan usaha ini.

Kini, ada sekitar 200 pengusaha mebel, baik perorangan maupun badan usaha yang tersebar di industri mubel Klender (PPIKM) di koridor Jalan Bekasi Timur Raya dan Jalan Pahlawan Revolusi, Jakarta Timur ini. [Pius Klobor]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>