Tuesday , 21 October 2014
Home >> TREN UKM >> Industri Furnitur Dituntut Meningkatkan Nilai Tambah Produk
Industri Furnitur Dituntut Meningkatkan Nilai Tambah Produk
Ilustrasi (Pius Klobor)

Industri Furnitur Dituntut Meningkatkan Nilai Tambah Produk

Hadirnya PIRNas, diharapkan agar industri rotan nasional mampu melakukan penemuan-penemuan teknologi dan pengembangan desain produk rotan yang sesuai dengan selera pasar dalam negeri maupun global.

JAKARTA, Indotrading.com – Meski memiliki keunggulan komparatif, namun pelaku industri furnitur, khususnya yang berbahan baku rotan dituntut untuk dapat meningkatkan nilai tambah produk maupun pemanfaatan jenis rotan dengan penguasaan desain, teknologi produksi, finishing, dan branding. Ini dimaksudkan agar industri tersebut dapat menghadapi persaingan di pasar global, terutama dengan furnitur rotan buatan China, Taiwan, dan Eropa.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap tahun Indonesia mensuplai sekitar 85% kebutuhan rotan dunia. Dari jumlah itu, 90% rotan dihasilkan dari hutan tropis di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI), mendirikan Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNas) di Palu. Pendirian PIRNas tersebut dimaksudkan untuk mendorong industri rotan nasional melalui penemuan-penemuan (invensi) teknologi dan pengembangan desain produk rotan yang sesuai dengan selera pasar dalam negeri maupun global. Pendirian PIRNas tersebut dilakukan atas kerjasama kemitraan dengan Institut Teknologi Bandung, Universitas Tadulako Palu, dan asosiasi industri yang bergerak di bidang industri furniture rotan dan kayu.

Uji Pasar di Jerman

Dirjen PPI Kemenperin, Dedi Mulyadi mengatakan, PIRNas telah membuat desain dan proto type produk furnitur, yang berbasis papan rotan dan rotan belah. Produk tersebut telah dilakukan uji pasar pada pameran furnitur terbesar di Eropa, yaitu International Mebel Messe (IMM) di Cologne, Jerman, pada 14–20 Januari 2013 lalu.

“PIRNas telah mendapatkan penemuan teknologi proses dengan memanfaatkan semua ukuran rotan untuk diproses menjadi papan rotan laminasi (laminated rattan board/rattan wood), sehingga semua rotan dapat dimanfaatkan untuk industri,” ujar Dedi seperti dikutip dari keterangan tertulisnya di Jakarta.

Menurut dia, melalui pameran tersebut terlihat respons pasar yang positif terhadap penemuan atau invensi teknologi dan proses dari industri furnitur nasional. Dari sekitar 500 orang calon pembeli, terdapat 20 orang pembeli potensial dan 8 orang pembeli prospektif, yang berasal dari Jerman, Turki, Malaysia, Amerika, Israel, Inggris, dan Belanda, dengan volume 850m³ (34 container) atau total nilai sebesar Rp 17 milyar, dengan tahap awal US$ 2 juta.

“Adapun nilai transaksi langsung seluruh peserta pameran dari paviliun Indonesia sebesar US$ 1.075.200 dan order sebanyakUS$ 1.283.000,” terangnya.

Dedi mengungkapkan bahwa, akan dilakukan juga pembahasan draft kerjasama (MoU) antara PIRNas dengan Pusat Inovasi Rotan Jerman dan Museum Rotan Jerman. Dan untuk menindaklanjuti prospek bisnis tersebut, akan dilakukan pula kerjasama kemitraan dengan pengusaha industri dalam negeri.

“Dalam waktu dekat, PIRNas akan melakukan MoU dengan Pusat Inovasi Rotan Jerman di Jakarta, sebagai upaya meningkatkan kualitas dan selera pasar Eropa,” kata Dirjen PPI.

Dengan adanya penemuan teknologi proses, lanjutnya, akan menambah perspektif tentang pemanfaatan rotan, yang selama ini rotan hanya dipergunakan untuk furnitur dan kerajinan, tetapi saat ini dapat dipergunakan untuk berbagai kebutuhan industri, seperti komponen bahan bangunan (lantai, dinding, plafon, kusen, daun pintu, dan lain-lain), kerajinan, perlengkapan rumah tangga, furniture, alat musik, dan dekorasi interior.

Selain papan rotan laminasi, PIRNas juga mengembangkan penemuan struktur rotan belah (Half Pole Structure), yang selama ini penggunaan rotan untuk furnitur dalam bentuk batangan utuh, sesuai dengan bentuk dan desain yang diinginkan. Namun dengan adanya penemuan rotan belah, maka penggunaan bahan rotan untuk furnitur akan lebih effisien. Perlu diketahui, program-program PIRNas yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha meliputi: seminar, workshop, pelatihan, mediasi bisnis, penelitian dan pengembangan, serta kerjasama kelembagaan.

Diinformasikan pula, menurut Laporan Surveyor (LS), nilai ekspor produk rotan pada periode 1 Januari – 30 september 2012, telah mencapai USD 157 Juta atau naik sekitar 57% dibanding tahun 2011 sebesar USD 100 juta. Nilai ekspor rotan tahun 2012 yang cukup tinggi tersebut disumbang dari ekspor produk furnitur rotan senilai USD 118,532 juta dan anyaman rotan senilai USD 39,250 juta. Beberapa faktor yang mendorong peningkatan ekspor produk jadi rotan pada tahun 2012 antara lain menurunnya produksi furnitur rotan China karena tidak lagi memiliki bahan baku rotan impor, dan beberapa negara kompetitor juga tidak dapat memenuhi order furnitur rotan dunia sehingga meminta produsen Indonesia untuk memenuhi order tersebut.

Dikatakan, kebijakan pemerintah menutup ekspor bahan baku rotan sejak awal tahun 2012 sebagai upaya mendorong tumbuh dan berkembangnya hilirisasi industri rotan, juga telah memberikan dampak positif bagi industri rotan Indonesia.

“Industri furnitur berbasis rotan merupakan salah satu industri yang memiliki nilai tambah tinggi dan menyerap banyak tenaga kerja serta memberikan kontribusi cukup penting terhadap perekonomian,” jelasnya. [Pio]